DALAM suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2
ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara
bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam
ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak
beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2
monyet tersebut menurut anda ?
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan
tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang
mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang,
sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh.
Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2
sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang
mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.
Tuesday, October 30, 2012
Monday, October 8, 2012
Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan
Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku
tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama
panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah
yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini
kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang
hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di
perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu
memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya
bisa menjadi pendengar saja.
Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)